Puskesmas Sukosari

Gedung Puskesmas Sukosari terletak di Jl. Gunung Will 30 Desa Sukosari Kecamatan Babadan Kabupaten Ponorogo, kurang lebih 10 km dari pusat kota Kabupaten.

Foto Bersama

Tim Kerja Puskesmas Sukosari Kabupaten Ponorogo

Pelayanan Pasien

Pemeriksaan pasien lanjut usia di Puskesmas Sukosari

Apel Pagi

Seluruh staf Puskesmas Sukosari melaksanakan apel pagi sebelum memulai aktifitas memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Penyuluhan Kesehatan

Penyuluhan tentang kesehatan oleh Kepala Puskesmas beserta jajaran kepada masyarakat setempat

Kamis, 28 Juli 2011

Potensi Pisang Bagi Tubuh

Proses penuaan selalu disertai dengan meningkatnya kejadian ketidak-cukupan status vitamin B6. Hal ini mungkin berkaitan dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada lansia dan memengaruhi metabolisme vitamin B6.
Meskipun mekanismenya sampai saat ini belum dapat dijelaskan, beberapa hasil penelitian yang dilakukan secara eksperimental menunjukkan adanya hubungan antara status vitamin B6 dengan respons imunitas dan kapasitas kognitif pada lansia.
Sebuah penelitian yang diterbitkan di tahun 1990-an menunjukkan bahwa pisang dapat memenuhi 2/3 kebutuhan vitamin B6 pada lansia dengan status ekonomi rendah yang tinggal di daerah metropolitan.Ada juga yang memenuhi kebutuhan vitamin B6-nya hanya dari sayur dan buah. Fakta penting dari penelitian ini adalah bahwa pisang mengandung vitamin B6 yang dapat memenuhi sebanyak 30 persen dari total kebutuhan vitamin B6. Keuntungan lain dari pisang adalah sifatnya yang padat gizi, ekonomis, dan mampu memenuhi kebutuhan vitamin B6 dan folat dalam jumlah yang cukup signifikan dan siap santap dan sangat cocok untuk mencegah demensia sejak dini.
Kebutuhan vitamin B6 dan folat dapat dipenuhi dengan cara mengonsumsi 1,5 - 2 pisang dalam setiap hari. Karena, 100 gram pisang mengandung 0,58 miligram vitamin B6. Sementara satu buah pisang ukuran sedang seberat 120 gram mengandung 0,70 miligram, artinya guna memenuhi kebutuhan vitamin B-6 untuk lansia berkisar antara 1,5-2 mg/harinya, cukup mengonsumsi dua buah pisang setiap harinya.
Dua buah pisang setara dengan dengan 58 mikrogram folat meskipun hanya memenuhi sepertiga kebutuhan folat tubuh karena 2/3- nya dapat dipenuhi dari sumber folat lainnya, seperti brokoli, bayam, dan kacang-kacangan.
Kebutuhan vitamin B12 tidak dapat dipenuhi dari sumber pangan nabati, untuk memperolehnya harus mengonsumsi sumber pangan hewani, susu, kerang, dan daging. Untuk yang terakhir, yakni daging, sebaiknya yang tanpa lemak dan tidak terlalu banyak.
Keunggulan lain pisang adalah kandungan energinya merupakan energi instan, yang mudah tersedia dalam waktu singkat, sehingga bermanfaat dalam menyediakan kebutuhan kalori sesaat. Karbohidrat pisang merupakan karbohidrat kompleks tingkat sedang dan tersedia secara bertahap sehingga dapat menyediakan energi dalam waktu tidak terlalu cepat. Karbohidrat pisang merupakan cadangan energi yang sangat baik digunakan dan dapat secara cepat tersedia bagi tubuh.
Gula pisang merupakan gula buah, yaitu terdiri dari fruktosa yang mempunyai indeks glikemik lebih rendah dibandingkan dengan glukosa, sehingga cukup baik sebagai penyimpan energi karena sedikit lebih lambat dimetabolisme. Sehabis bekerja keras atau berpikir, selalu timbul rasa kantuk. Keadaan ini merupakan tanda-tanda otak kekurangan energi sehingga aktivitas secara biologis juga menurun.
Untuk melakukan aktivitasnya, otak memerlukan energi berupa glukosa. Glukosa darah sangat vital bagi otak untuk dapat berfungsi dengan baik, antara lain diekspresikan dalam kemampuan daya ingat. Glukosa tersebut terutama diperoleh dari sirkulasi darah otak karena glikogen sebagai cadangan glukosa sangat terbatas keberadaannya.
Jadi, tips mudah untuk mencegah demensia adalah dengan dua buah pisang ukuran sedang dan minum susu setiap hari, sepertinya akan cukup membantu.


Sumber: http://www.depkes.go.id/, disebarluaskan melalui Puskesmas Sukosari

By Puskesmas Sukosari === No comments

Tetap Langsing Selama Menyusui

Anda ingin menyusui, tapi takut gemuk? Tak perlu khawatir! Ibu dapat menyiasatinya dengan mengikuti diet tepat makanan rendah kalori. Caranya yaitu:
1.       Makanlah makanan yang berkalori rendah, tetapi mengandung zat gizi yang maksimal, khususnya makanan yang tinggi protein.
2.     Kurangi makanan yang digoreng sebagai gantinya, olahlah makanan Ibu dengan cara lain, misalnya dikukus, direbus, atau dibakar.
3.     Pilihlah daging yang tidak berlemak, khususnya hati, jantung atau ginjal.
4.     Konsumsilah makanan yang kaya protein tapi tidak menggemukan, seperti tahu dan tempe.
5.     Perbanyak makan sayuran serta buah-buahan, dan kurangilah kue-kue.
6.     Pilihlah buah segar ketimbang buah yang dibuat manisan.
7.     Hindari sayuran dan buah yang berkalori tinggi seperti alpukat, sirsak, ubi dan jagung.
8.     Kurangi minuman manis seperti sirop atau softdrink.
9.     Hindari makanan yang manis-manis seperti permen atau coklat.

Apa yang perlu Ibu hindari? Ada beberapa hal yang perlu Ibu hindari selama menyusui yaitu:
1.       Kol, bunga kol atau lobak, karena dapat membuat perut bayi kembung.
2.     Teh atau kopi dalam jumlah berlebihan, karena zat yang terkandung di dalamnya mempunyai efek merangsang ginjal bekerja lebih giat, sehingga mengakibatkan Ibu jadi lebih sering ke belakang (hal ini dapat membuat Ibu kekurangan cairan).
3.     Rokok, karena zat nikotinnya dapat menimbulkan keracunan pada bayi.
4.     Pil KB, karena beberapa di antarnya mengandung hormon estrogen sintesis dan hormon progesteron yang mempunyai dampak menghambat keluarnya air susu.

Sumber: Buklet Prenagen "Menu Harian untuk Ibu Menyusui" disebarluaskan melalui Puskesmas Sukosari

By Puskesmas Sukosari === No comments

Selasa, 05 Juli 2011

Dahsyatnya manfaat Air Susu Ibu (ASI)

Bayi manusia minum air susu manusia, Anak sapi minum air susu sapi, ini merupakan prinsip yang tidak dapat dirubah. Sebuah desain sedemikian sempurna untuk makhlukNya. 
Amat disayangkan bila aneka rupa iklan susu bubuk membuat masyarakat memilih susu sapi, bukan ASI (Air Susu Ibu). Padahal ASI jauh lebih baik untuk bayi dibanding yang lain.
Keunggulan dan manfaat menyusui dapat dilihat dari beberapa aspek yaitu : aspek gizi, aspek imunologik, aspek psikologis, aspek kecerdasan, aspek neurologis, aspek ekonomis dan aspek penundaan kehamilan.

A.     Aspek Gizi: Manfaat Kolostrum
Kolostrum mengandung zat kekebalan terutama lgA untuk melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi terutama diare. Jumlah kolostrum yang diproduksi bervariasi tergantung dari hisapan bayi pada hari-hari pertama. Oleh karena itu kolostrum harus diberikan pada bayi.
Kolostrum mengandung protein, vitamin A yang tinggi dan mengandung karbohidrat dan lemak rendah, sehingga sesuai dengan kebutuhan gizi bayi pada hari-hari pertama kelahiran. Membantu mengeluarkan mekonium atau kotoran bayi yang pertama berwarna hitam atau kehijauan. ASI mudah dicerna karena selain mengandung zat gizi yang sesuai, juga mengandung enzim-enzim untuk mencerna zat-zat gizi yang terdapat dalam ASI tersebut.

B.     Komposisi Taurin, DHA AA Pada ASI
Taurin adalah sejenis asam amino kedua yang terbanyak dalam ASI yang berfungsi sebagai neuro-transmitter dan berperan penting untuk proses maturasi sel otak. Percobaan pada binatang menunjukkan bahwa defisiensi taurin akan berakibat terjadinya gangguan pada retina mata.
Decosahexanoic Acid (DHA) dan Arachidohic Acid (AA) adalah asam lemak tak jenuh rantai panjang (polyunsaturated fatty acids) yang diperlukan untuk pembentukan sel-sel otak yang optimal. Jumlah DHA dan AA dalam ASI sangat mencukupi untuk menjamin pertumbuhan dan kecerdasan anak. Disamping itu DHA dan AA dalam tubuh dapat dibentuk/disintesa dari substansi pembentuknya (precursor) yaitu masing-masing dari omega 3 (asam linolenat) dan omega 6 (asam linoleat)

C.     Aspek Imunologik
ASI mengandung zat anti infeksi, bersih dan bebas kontaminasi.
Imunoglobulin A (Ig A) dalam kolostrum atau ASI kadarnya cukup tinggi. Sekretori Ig A tidak diserap tetapi dapat melumpuhkan bakteri patogen E.coli dan berbagai virus pada saluran pencernaan.
Laktoferin yaitu sejenis protein yang merupakan komponen zat kekebalan yang mengikat zat besi di saluran pencernaan.
Lysosim, enzim yang melindungi bayi terhadap bakteri (E.coli dan salmonela) dan virus. Jumlah lysosim dalam ASI 300 kali lebih banyak daripada susu sapi.
Sel darah putih pada ASI pada 2 minggu pertama lebih dari 4000 sel per mil. Terdiri dari 3 macam yaitu: Bronchus Asociated Lympocyte Tissue (BALT) antibodi pernapasan, Gut Asociated Lympocyte Tissue (GALT) antibodi saluran pernapasan, mammary Asociated Lympocyte Tissue (MALT) antibodi jaringan payudara ibu.
Faktor bifidus, sejenis karbohidrat yang mengandung nitrogen, menunjang pertumbuhan bakteri lactobacillus bifidus. Bakteri ini menjaga keasaman flora usus bayi dan berguna untuk menghambat pertumbuhan bakteri yang merugikan.

D.    Aspek Psikologik
Rasa percaya diri ibu untuk menyusui : bahwa ibu mampu menyusui dengan produksi ASI yang mencukupi untuk bayi. Menyusui dipengaruhi oleh emosi ibu dan kasih sayang terhadap bayi akan meningkatkan produksi hormon terutama oksitosin yang pada akhirnya akan mingkatkan produksi ASI.
Interaksi ibu dan bayi : Pertumbuhan dan perkembangan psikologis bayi tergantung pada kesatuan ibu dan bayi tersebut.
Pengaruh kontak langsung ibu dan bayi: Ikatan kasih sayang ibu dan bayi terjadi karena berbagai rangsangan seperti sentuhan kulit. Bayi akan merasa aman dan puas karena bayi merasakan kehangatan tubuh ibu dan mendengar denyut jantung ibu yang sudah dikenal sejak bayi masih dalam rahim.

E.     Aspek Kecerdasan
Interaksi ibu-bayi dan kandungan nilai gizi ASI sangat dibutuhkan untuk perkembangan system syaraf otak yang dapat meningkatkan kecerdasan bayi.
Penelitian menunjukkan bahwa IQ pada bayi yang diberi ASI memiliki point 4,3 point lebih tinggi pada usia 18 bulan, 4,6 point pada usia 3 tahun, dan 8,3 point lebih tinggi pada usia 8,5 tahun dibandingkan bayi bayi yang tidak diberi ASI.

F.      Aspek Neurologis
Dengan menghisap payudara koordinasi syaraf menelan, menghisap dan bernapas pada bayi yang baru lahir dapat lebih sempurna.
Selain mengandung protein yang tinggi, ASI memiliki perbandingan antara Whei dan Casein yang sesuai untuk bayi. Rasio Whei dengan Casein merupakan salah satu keunggulan ASI dibanding dengan susu sapi. ASI mengandung Whei lebih banyak yaitu 65:35. Komposisi ini menyebabkan protein ASI lebih mudah diserap. Sedangkan susu sapi mempunyai perbandingan Whei:Casein adalah 20:80 sehingga tidak mudah diserap.
Bayi yang minum ASI dibanding dengan minum susu bubuk buatan lebih jarang terjangkit bermacam-macam penyakit akut maupun kronis.
Laktoferin yaitu sejenis protein yang merupakan komponen zat kekebalan yang mengikat zat besi di saluran pencernaan.
Lysosim, enzim yang melindungi bayi terhadap bakteri (E.coli dan salmonela) dan virus. Jumlah lysosim dalam ASI 300 kali lebih banyak daripada susu sapi.
Laktiferin yaitu sejenis protein yang merupakan komponen zat kekebalan zat besi di saluran pencernaan. 

G.    Aspek Ekonomis
Dengan menyusui secara eksklusif, ibu tidak perlu mengeluarkan biaya untuk makanan bayi sampai bayi berumur 4 bulan. Dengan demikian akan menghemat pengeluaran rumah tangga untuk membeli susu formula dan peralatannya.

H.    Aspek Penundaan Kehamilan
Dengan menyusui secara eksklusif dapat menunda haid dan kehamilan, sehingga dapat digunakan sebagai alat kontrasepsi alamiah yang secara umum dikenal sebagai Metode Amenorea Laktasi (MAL).
Bayi yang minum ASI dibanding dengan bayi minum susu bubuk buatan, lebih jarang terjangkit bermacam penyakit akut maupun kronis.
Laktoferin yaitu sejenis protein yang merupakan komponen zat kekebalan yang mengikat zat besi di saluran pencernaan.
Lysosim, enzim yang melindungi bayi terhadap bakteri (E.coli dan salmonela) dan virus. Jumlah lysosim dalam ASI 300 kali lebih banyak daripada susu sapi.
Laktiferin yaitu sejenis protein yang merupakan komponen zat kekebalan zat besi di saluran pencernaan.













Sumber : Mediakom Kementrian Kesehatan RI
Disebarluaskan melalui Puskesmas Sukosari.

By Puskesmas Sukosari === 1 comment

Senin, 04 Juli 2011

Cara Sehat Menangkal Lapar

Rasa lapar bisa saja muncul bukan karena perut kosong, tetapi juga karena fluktuasi hormon. Pilihan makanan sangat penting untuk mengurangi munculnya rasa lapar akibat hormon, terutama bagi anda yang ingin menurunkan berat badan. Cobalah untuk menangkal rasa lapar dengan cara sehat. 

Berikut ini adalah enam cara mudah yang dilansir Women’s Health :
1.      Ikan
Daripada memilih daging merah atau ayam sebagai lauk di menu utama, lebih baik pilih ikan. Menurut dr. Susanna, ahli gizi asal Australia, indeks kepuasan memakan ikan lebih tinggi dibandingkan daging atau ayam.
2.      Jus Buah Tak Disaring
Hindari mengkonsumsi jus buah dalam kemasan. Lebih baik anda buat jus sendiri yang tidak disaring. Buah yang telah hancur diblender banyak mengandung serat akan menimbulkan rasa kenyang saat Anda meminumnya.
3.      Tutup Hidung
Saat mencium aroma donat, roti atau muffin yang baru saja matang, memang hasrat makan bisa meningkat. Untuk menghindarinya, tutup saja hidung anda. Cara ini bisa menginduksi sekresi insulin yang membuat Anda berpikir kalau Anda lapar.
4.      Konsumsi Wortel Mentah
Wortel merupakan sayuran yang juga enak dinikmati dalam keadaan mentah. Menurut penelitian dari tim Irlandia, mengknsumsi wortel mentah dalam keadaan mentah bisa membuat Anda lebih kenyang.
5.      Konsumsi Vitamin
Pastikan nutrisi tubuh terpenuhi dengan baik. Jika Anda merasa ragu, konsumsi saja vitamin. Itu karena jika tubuh merasa kurang nutrisi, hasrat makan akan meningkat. Sehingga, Anda akan merasa lapar dan makan lebih banyak.
6.      Makan di Tempat Yang Terang
Pastikan lampu di ruangan makan dalam keadaan terang. Menurut penelitian yang dilakukan tim dari University of Illinois Amerika Serikat, tempat yang temaran memicu seseorang makan berlebihan.








Sumber : Mediakom Kementrian Kesehatan RI. Edisi 30 / Juni 2011
Disebarluaskan melalui Puskesmas Sukosari.

By Puskesmas Sukosari === No comments

Jumat, 01 Juli 2011

Benarkah Anemia Menyebabkan Gagal Tumbuh Pada Bayi?

Menurut World Health Organization (WHO), seorang bayi dikatakan mengalami anemia bila kadar hemoglobin darah lebih rendah dari 11 g/dl. Namun, etiologi anemia yang paling umum adalah defisiensi zat besi dan juga defisiensi asam folat. 
Kedua jenis anemia tersebut dapat dibedakan berdasarkan rata - rata volume sel darah merahnya.
         Merujuk pada defisiensi tersebut, anemia adalah masalah kesehatan yang cukup besar untuk bayi di Indonesia. Menurut sebuah survei yang dilakukan oleh Ijkhuizen pada tahun 2001, enam dari sepuluh bayi di Indonesia itu tidak jauh berbeda dengan kondisi dunia. Sebuah survei yang dilakukan oleh bank dunia pada tahun 2006 menunjukkan bahwa 70% bayi mengalami anemia.
            Disebut gagal tumbuh, bila tinggi badan anak kurang dari dua standar deviasi dari tinggi badan yang dianggap normal pada suatu popoulasi. Gagal tumbuh dapat disebabkan oleh banyak faktor, beberapa diantaranya adalah malanutrisi makronutrien. Namun, mikronutrien juga berperan penting dalam proses pertumbuhan bayi. Salah satu mikronutrien yang dianggap penting adalah zat besi.
           Gagal tumbuh memiliki implikasi yang buruk bagi proses tumbuh dan kembang bayi, terutama pada bayi dibawah tiga tahun. Selain menimbulkan gangguan proses pertumbuhan berupa kurangnya tinggi badan bayi dibandingkan dengan populasi normal, proses perkembangan otak juga dapat terganggu. Hal tersebut akan semakin fatal bila defisiensi terjadi pada bayi umur enam sampai dua belas bulan karena proses mielinisasi otak sangat aktif pada masa itu.
              Penelitian yang dilakukan oleh Ferly pada tahun 2009 menemukan bahwa prevalensi anemia di Indonesia masih cukup tinggi, yaitu 54,5% bayi umur enam sampai delapan bulan di Indonesia mengalami anemia. Selain itu, ditemukan pula adanya hubungan antara anemia dengan gagal tumbuh dan penurunan berat pada bayi umur enam sampai delapan bulan di Jakarta, Indonesia. Namun, korelasi penurunan gagal tumbuh lebih besar dibandingkan penurunan berat badan. Padahal, gagal tumbuh merupakan indikator pertumbuhan.yang kronik.
              Studi epidemiologis yang dilakukan oleh Ferly tersebut sesuai dengan penelitian dasar yang dilakukan oleh Vihervouri pada tahun 1996. Dalam publikasinya, Vihervouri mengungkapkan bahwa terdapat dua hormon yang sangat berperan dalam proses pertumbuhan, yaitu growth hormone dan insulin-like growth factor-1 (IGF-1). Kedua hormon tersebut berperan dalam menghambat proses apoptosis dari sel-sel hematopoietik yang merupakan prekursor dari sel-sel darah, salah satunya adalah sel darah merah. Itulah yang menjelaskan mengapa orang yang pertumbuhannya normal memiliki kadar hemoglobin yang cenderung normal pula.
             Umumnya bayi dengan anemia memiliki gejala-gejala yang nonspesifik, seperti rasa lemah, merasa cepat lelah, bahkan dapat menyebabkan kebiruan pada badan bayi. Pada bayi dengan ciri-ciri tersebut, salah satu penyebab yang mungkin adalah perdarahan internal. Apabila tidak dapat ditemukan sebab perdarahan, maka dapat dicurigai kelainan nutrisi sebagai penyebabnya.
            Jika bayi mengalami kelainan nutrisi, tata laksana utamanya adalah melakukan perbaikan nutrisi. Perbaikan nutrisi bayi yang disarankan adalah pemberian suplementasi nutrisi. Menurut studi yang dilakukan oleh Smuts pada tahun 2005, pemberian mikronutrisi berupa zink dan zat besi sangat berguna dalam memperbaiki status gizi bayi. Pemberian nutrisi tersebut hendaknya diberikan setiap hari sebanyak 10 mg.





Sumber : Media Aesculapius No. 02.XL.Mei-Juni 2011. 
Disebarluaskan melalui Puskesmas Sukosari

By Puskesmas Sukosari === 2 comments

Jumat, 17 Juni 2011

Leptospirosis

Apakah Leptospirosis itu?
  • Penyakit zoonosa, yaitu penyakit yang secara alami dapat dipindahkan dari binatang vertebrata ke manusia atau sebaliknya.
  • Zoonosa yang disebabkan oleh bakteri Leptospira
  • Direct zoonoses ; Host to host transmission
  • Leptospirosis ; anthropozoonoses, manusia merupakan ‘dead end infection
  • Synonim
  • Weil’s diseases, Mud fever, Canicola fever, Hemorrhagic jaundice, trench fever,Swineherd disease, dan Akiyama
  • Spektrum luas dari infeksi subklinis sampai sindroma berat yang melibatkan infeksi multi organ dengan angka kematian cukup tinggi

Apakah Leptospira itu?
  • Bakteri bersifat patogen manusia dan hewan (patogen)
  • Leptospira patogen terpelihara secara alami di ginjal (renal tubules) pada binatang tertentu.
  • Bakteri sapropfita ; hidup bebas dan dianggap tidak menyebabkan penyakit
  • Leptospira saprofita hidup di lingkungan lembab atau basah (permukaan air, tanah lembab sampai air ledeng)
  • Saprophytic halophilic (salt-loving); Leptospira ditemukan di air asin.

Leptospira sp.

Bagaimanakah bentuk Leptospira itu?
·        Bentuk spiral dengan pilinan rapat, ujung ujungnya bengkok/kait, mobil, 0,1µm x 0,6µm - 0,3µm x 20µm, aerobik obligat, petumbuhan optimal 28-300C, pH alkali (7,2-8,0)

Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap epidemiologi leptospirosis (Faine dkk.,1999)




Tiga pola epidemiologi leptospira menurut Faine, dkk.(1999).
·        Pola Pertama
Ditemukan dalam iklim sedang, sejumlah kecil serovar terlibat dalam penularan pada manusia hampir selalu terjadi akibat kontak langsung dengan binatang yang terinfeksi ; di peternakan sapi atau babi. Imunisasi kemungkinan dapat mengendalikan penularan pada hewan dan manusia
·        Pola Kedua
Ditemukan dalam daerah tropis, banyak serovar terlibat dalam penularan  pada manusia dan binatang. Manusia terpapar tidak terbatas pada pekerjaan, tetapi terjadinya kontaminasi lingkungan dari binatang terinfeksi terutama musim hujan
·        Pola Ketiga
Infeksi oleh binatang pengerat pada lingkungan perkotaan/urban yang menyebabkan wabah di daerah kumuh (terutama di negara berkembang)

Kategori inang Leptospirosis
·        Incidental host (manusia)
Inang vertebrata yang tidak untuk tempat hidup organisme pathogen secara  terus menerus
·        Link host
Inang vertebrata penghubung antara inang pemelihara organisme pathogen dan manusia
·        Amplifier host (Tikus)
Apabila organisme pathogen berada di tubuh inang vertebrata, maka organisme pathogen tersebut dapat menjadi banyak, yang dapat berpotensi ditularkan ke manusia (virus dan bakteri)

Sumber Penularan
Jenis binatang apakah yang dapat menularkan leptospirosis ke manusia?
·        Jenis binatang mamalia kecil, khususnya binatang pengerat yang peridomestik ( tikus, mencit  dll) dan insektivora (cecurut);
·        Hewan domestic (lembu, babi, anjing, jarang terjadi pada domba-domba, kambing, kuda dan kerbau liar)
·        Binatang berbulu/berambut lain seperti, rubah perak, cerpelai dan berang-berang yang mempunyai manfaat untuk produksi bulu binatang, juga berpotensial sebagai penular leptospirosis ke  manusia. Binatang melata dan binatang ampibi diduga  juga membawa leptospirosis

Bagaimanakah bakteri leptospira dapat terpelihara di lingkungan  alami?
·        Infeksi bakteri leptospira terpelihara di alam  di dalam suatu populasi inang secara  horisontal (antar inang) dan vertikal (keturunan).
·        Populasi seperti itu menyebabkan penularan leptospirosis secara terus menerus dari generasi ke generasi dari kelompok inang satu ke inang lainnya.

Apa peran inang alami di dalam penularan leptospirosis?
·        Peran inang alami leptospirosis adalah memelihara siklus penularan leptospirosis di alam oleh jenis inang tertentu di area geografi tertentu tanpa melibatkan inang lain.
·        Bakteri leptospira terpelihara di dalam organ parenkhimatosa (terutama hati dan ginjal) selama hidupnya dan dikelurakan melalui urin dalam jumlah banyak.
·        Leptospira telah beradaptasi di dalam organ inang alaminya tanpa menyebabkan gejala sakit pada inang alaminya

TEMPAT HIDUP TIKUS DAN LEPTOSPIROSIS

·        Jenis domestik (domestic species)
Seluruh aktivitas hidup tikus di dalam rumah (commensal rodent) atau synanthropic), (atap, sela-sela dinding, dapur, almari), gudang, kantor, pasar, selokan, dan lain-lain.
·        Jenis peridomestik (peridomestic species)
Aktivitas  hidup tikus dilakukan di luar rumah dan sekitarnya ; di lahan pertanian, perkebunan, sawah dan pekarangan rumah
·        Jenis silvatik (sylvatic species)
Aktivitas hidup tikus dilakukan jauh dari lingkungan manusia; hutan

Model Penularan Leptospirosis
·        Kotoran (Feces)
·        Air seni (Urine)
·        Air ludah (Saliva)
·        Darah (Blood)

Masa Inkubasi
·        Masa inkubasi 4-19 hari
·        Rata-rata 10 hari

Siklus penularan Leptospirosis


Patogenesis
·        Fase leptospiremia
Leptospira dalam darah, vasculitis (kerusakan endotel kapiler), nephritis interstisial (radang ginjal), nekrosis tubuler (kematian sel atau jaringan tubulus pada ginjal), renal failure, pada hati terjadi nekrosis sentriobuler, paru-paru didapatkan lesi vaskuler dan pada otot terjadi pembengkakan vakuolasi myofibril dan nekrosis fokal
·        Fase imun
Terjadi respon immun humoral dan celluler, timbul antibodi. Leptospira menetap di dalam tubulus proksimal ginjal dan dapat keluar melalui air seni setelah berminggu-minggu terinfeksi. Leptospira dapat menetap di dalam otak, ruang anterior mata yang menimbulkan uveitis kronis atau uveitis berulang.
·        Convalescence
Penderita leptospirosis berat pada masa convalescence terjadi perbaikan fungsi ginjal dan hati seperti semula yang terjadi pada minggu ke 2-4, patogenesis belum diketahui dengan pasti.

Gejala klinis
Sindroma, fase
Gejala klinis
Spesimen laboratorium
Leptospirosis anikterik
Fase leptospiremia (3-7 hari)
Demam tinggi, nyeri kepala, myalgia, nyeri perut, mual, muntah conjuctival suffusion
Darah, 
LCS (liquor cerebro spinalis)
Fase imune
(3-30 hari)
Demam ringan, nyeri kepala, muntah meningitis aseptic
Urine
Leptospirosis ikterik
Fase leptospiremia dan immun overlaping)
Demam, nyeri kepala, myalgia, ikterik, gagal ginjal, hipotensi, manifestasi  pendarahan, pneumonitis hemorrhagic, leucositosis  
Darah, LCS (minggu 1), urine (minggu 2)

Penelitian di malaysia Barat oleh Tan (1970) selama 10 tahun pola klinis leptospirosis:
·        Demam (100%)
·        Injeksi siller (59%)
·        Ikterik (40%)
·        Nyeri tekan oto (45%
·        Nyeri otot/seluruh tubuh (31%)
·        Gejala ganguan perut (29%)
·        Sakit kepala (25%)
·        Proteinuria (25%)
·        Menggigil (22%)
·        Azotemia (20%)
·        Hepatomegali (18%)
·        Speinomegali (6%)
·        Perdarahan (5%)
·        Batuk (4%)

Gambaran Klinis
·        Subklinik:  (15 – 40%)                                       
·        Klinik :  RINGAN (> 90%),                                
                     SEDANG  s/d 
                           BERAT ( <10% )         
·        Tergantung pada:
-      Jenis/banyaknya dari reservoir
-      Daya tahan tubuh/imunitas
-      Cepat atau lambatnya mendapatkan pengobatan definitive dan suportif

Kategori gambaran klinis
·        Ringan, seperti  flu.
·        Weil’s syndrome (ikterik, gagal ginjal, perdarahan, myocarditis dengan arrhythmia).
·        Meningitis / meningoencephalitis.
·        Perdarahan paru dengan gagal nafas

Faktor Resiko terpapar leptospirosis
·        Kebiasaan penduduk
-      Mandi di sungai/ genangan air  beresiko terpapar leptospirosis
-      Cuci  di sungai/genangan air  beresiko terpapar leptospirosis
-      Peliharaan kucing dan kandang ternak di dalam rumah, kambing dan unggas beresiko terpapar leptospirosis
-      Berenang  faktor resiko terpapar leptospirosis
·        Pekerjaan
-      Pekerjaan pada jalanan yang tergenang air hujan
-      Petani sawah beresiko terpapar leptospirosis
·        Lingkungan fisik
-      Kebersihan luar rumah belum dikelola  berisiko terpapar leptospirosis
-      Kebersihan dapur belum dikelola baik.

Pengobatan
·        Rehidrasi
·        Menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit.
·        Pengobatan simptomatis.
·        Antibiotik :
-      PENICILIN PROCAIN 4 X 1,5 JUTA UNIT.
-      AMOKSISILIN 4 X 1 gram.
-      CIPROFLOXACIN 2 X 500 mg
-      CEFTRIAXON 1 X 2 gram
-      CEFOTAXIM 2 X 1 gram

Pengobatan antibiotic
Lama pemngobatan selama 7 hari :
·        Ringan
-      DOXYCYCLINE              2 x 100 MG
-      AMPICILLIN                    4 x 500-750 MG
-      AMOXILCILLIN              4 x 500 MG
·        Sedang atau Berat
-      PENICILLIN G                 4 x 1,5 JUTA  UNIT
-      AMOXICILLIN                            4 x 1 GR.
-      ERYTHROMYCIN                       4 x 500 MG
-      Cephalosporin / Quinolone

Prognosis
·        Prognosis buruk bila terlambat dapat pengobatan dan sudah masuk stadium 3-4.
·        Prognosis buruk bila ada penyakit penyerta lainnya.
·        Pada saat outbreak prognosis lebih buruk

Pencegahan
·        Belum ada vaccine untuk leptospirosis
·      CDC –> Doxycicline 200 mg / minggu, 2-3 hari sebelum kontak dengan cairan yang mungkin tercemar.
·        Berusahalah seminimal mungkin kontak dengan cairan yang tercemar
·        Memberikan desinfectan pada cairan yang diduga tercemar.
·        Penderita demam daerah banjir segera berikan profilaksis Antibiotik Amoksisilin

Kebijakan
·        Pengumpulan data dasar à surveilans RS dan Puskesmas
·        Peningkatan Kewaspadaan Dini
·        Penatalaksanaan Kasus di RS
·        Pengendalian Vektor/Hewan Penular
·        Peningkatan SDM
·        Pemberdayaan Masyarakat
·        Meningkatkan kerjasama Lintas sektor dan Lintas program
·        Membangun jejaring kemitraan (Lembaga Penelitian,LSM,Swasta, dll)
·        Meningkatkan Pengawasan di wilayah perbatasan
·        Melaksanakan bimbingan operasional

Kegiatan
·        Pencatatan dan pelaporan à Sistem surveilans STP di RS (ensefalitis )
·        Pengobatan dan perawatan penderita di RS
·        Ceramah klinik Leptospirosis
·        Pelacakan kasus

Penanggulangan Leptospira
·        Leptospirosis :
Personal Hygiene
-         Pakaian pelindung (Pembersih septic tank, dll)
-         Sanitasi lingkungan, termasuk sanitasi kolam renang
-         Pada hewan :
- Rodent control
- Vaksin hewan
- Cara memelihara hewan yang sehat

Masalah
·        Kesulitan diagnosa laboratorium
-      Hanya lab tertentu
-      Biaya besar
·        Kontrol terhadap vektor
·        Sanitasi kandang dan lingkungan
·        Tingkat pengetahuan masyarakat
·        Belum termasuk program prioritas Depkes & Deptan
·        Pengendalian Penyakit Leptospirosis di beberapa daerah belum menjadi prioritas


Sumber : Dinkes Provinsi Jatim. Disebarluaskan Bidang P2PL Dinkes Kabupaten Ponorogo melalui Puskesmas Sukosari.

By Puskesmas Sukosari === 2 comments